Menuju Ridho Ilahi

Ya Rabb...
Berikanlah kami petunjuk jalanMu yang lurus...
Berikanlah kami kekuatan dalam menempuh jalan ini...
Agar dapat kami bina keluarga yang Sakinah, Mawaddah, waRahmah, generasi yang cinta Al Qur'an, bersemangat dalam menuntut ilmu dan berdakwah, mampu menebar manfaat dan kebaikan bagi diri, keluarga dan sesama. Amien ya Rabb..

Sabtu, 12 Maret 2016

Wahn

Ingin marah. Entah kepada siapa. Diriku sendiri. Pasti. Orang lain. Mungkin. Pantaskah aku menyalahkan orang lain? Namun relakah aku biarkan diriku terbawa hanyut oleh arus? Arus gemerlap dunia yang terus menarik tanganku, dengan cara dan dalih apapun!!! Bahkan untuk kebaikan sekalipun !!!
Menjadi salah. Ketika kita membiarkan diri kita hanyut, atau bahkan terjun dan mengikutinya
Menjadi serba salah. Ketika memilih diam di tempat. Sambil meraih apa yang bisa digenggam untuk bertahan.

Apa yang sedang kubahas malam ini, saudaraku? Yang mengusik rasa kantukku

Sebelumnya aku pernah bercerita sekilas tentang keadaan keluarga kami yang pas-pasan

Dan kali ini ketika segala pernak pernik dunia tidak hanya bisa kita lihat di pasar, namun dalam genggaman kita. . .

Apa yang banyak bisa menjadi kurang, yang pas-pasan bisa menjadi kekurangan

Rabu, 24 Februari 2016

Puasa Keinginan

Tak usah kau habiskan banyak waktu untuk mengejar keinginanmu
Dunia tak perlu dikejar
Biarkan ia datang menjumpaimu
Apa yang menjadi rizkimu takkan tertukar
Jangan mengira udah usai perjuanganmu, kemudian saatnya bersenang-senang. . .
Tahan. . . Tetaplah tahan keinginanmu
Kita adalah keluarga pas-pasan

Pas kita butuh, pas ada
Tak perlu lelah mengada-ada

Kembalilah pada kesederhanaan
Kembalilah pada kebersahajaan

Sungguhnya apa yang kita keluarkan untuk orang tua, untuk keluarga, untuk dakwah, akan menjadi tabungan akhirat kita yang nilainya jauh lebih baik daripada hanya berhenti pada memuaskan keinginan kita

Jika berpuasa Daud sulit bagimu karena kebergantungan anak padamu
Mengapa tak kau coba puasakan diri dari berbagai keinginan dunia?

Bukankah kaupun telah merasakan manisnya perjuangan?
Mengapa engkau berpikir untuk menyudahinya?

Selasa, 22 Desember 2015

Zuhud

Tulisan ini adalah curahan hati seorang istri yang baru mendapat ilmu tentang zuhud dari sudut pandang kemanusiawian dan keperempuanannya.
Kunci kecintaan Rabb kepada seorang hamba
Kunci kecintaan manusia padanya

Zuhud terhadap dunia berbuah kecintaan Rabb
Zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia berbuah kecintaan manusia

Dan kali ini ingin aku mencurahkan isi hatiku dan tentang zuhud pada poin kedua

Kalimat yang tegas, jelas dan lugas. Bayangkan jika kita menjadi manusia super kaya apakah hal itu bisa mengundang cinta yang sesungguhnya dari orang lain?

Bersambung.. .

Senin, 21 Desember 2015

Rela Menerima Pengaruh dari Pasangan

Oleh: ustadz Cahyadi Takariawan.
Salah satu faktor penting yang menjadi kunci kebahagiaan hidup berumah tangga adalah ketemunya chemistry penyatuan jiwa suami dan istri. Mereka menjadi satu jiwa; yang utuh, saling terikat dengan rumus yang tepat, sehingga tidak ada godaan yang bisa memisahkan mereka. Saya menyebut kondisi ini dengan “kesejiwaan”, suami dan istri yang sudah menemukan chemistry hubungan dan memiliki ikatan yang kokoh (mitsaqan ghalizha) tak terpisahkan.

Untuk mencapai situasi kesejiwaan ini tidak mudah, walaupun juga tidak susah. Hanya memerlukan kesabaran dalam melalui prosesnya yang tampak rumit. Saya akan mengajak anda untuk menguraikan kerumitan-kerumitan proses tersebut dengan cara-cara yang sederhana dan insyaallah mudah dilakukan. Siapkan diri bersama pasangan untuk melakukan beberapa langkah yang akan saya uraikan satu per satu untuk memudahkan memahami bagaimana cara menemukan kesejiwaan.

Ada banyak cara atau langkah yang bisa dilakukan oleh suami dan istri dalam upaya menemukan kesejiwaan. Pada postingan kali ini, saya akan menguraikan satu cara terlebih dahulu. Cara-cara lainnya akan saya sampaikan pada kesempatan yang lain, insyaallah.

Menerima Pengaruh Pasangan

Inilah cara pertama dalam menemukan kesejiwaan suami dan istri: Terimalah pengaruh dari pasangan anda. Setelah menikah, anda harus membuka diri seluas-luasnya untuk berubah bersama pasangan. Anda harus merelakan adanya intervensi dalam kehidupan baru bersama pasangan. Tidak bisa lagi anda bersikukuh mempertahankan ‘orisinalitas’ diri anda, tanpa mau berubah bersama pasangan. Inilah konsekuensi hidup berumah tangga.

Pada saat resepsi pernikahan, anda banyak mendapatkan hadiah serta ucapan selamat. Banyak orang mengucapkan kalimat “Selamat Menempuh Hidup Baru” kepada pengantin berdua. Anda pasti masih ingat ucapan dan harapan seperti itu dari keluarga, sanak saudara, serta sahabat-sahabat anda saat melaksanakan upacara resepsi pernikahan. Ucapan itu memiliki pesan yang mendalam, bahwa usai akad nikah, anda dan pasangan benar-benar menempuh sebuah kehidupan yang baru sama sekali. Sebuah dunia yang bertanggung jawab dan unik.

Di antara yang baru dalam kehidupan setelah pernikahan adalah kejiwaan yang baru, hasil bentukan dari jiwa suami serta jiwa istri yang terikat dengan rumus tertentu yang tepat. Jiwa baru ini tidak terbentuk dengan sendirinya hanya karena ada akad nikah, namun ia terbentuk dengan sebuah proses. Suami dan istri berinteraksi setiap hari dan menyusun puzle jiwa dalam satu bidang kehidupan. Suami membawa keping puzle jiwanya, istri membawa keping puzle jiwanya, lalu mereka berdua bekerja sama menyusun keping-keping puzle jiwa mereka untuk memenuhi bidang kehidupan rumah tangga mereka berdua. Bentuk keping puzle mereka berdua tidaklah sama, tidaklah berbentuk kotak-kotak sama sisi yang mudah untuk ditata dan mudah untuk diletakkan memenuhi bidang.

Kenyataannya keping puzle yang mereka bawa berbentuk tidak beraturan, maka ketika disusun untuk memenuhi bidang kehidupan, selalu ada rongga sisa. Ada ruang kosong yang tidak terisi. Satu-satunya cara untuk memenuhi ruang-ruang kosong tersebut adalah dengan mengubah bentuk keping puzle bersama-sama. Suami bersedia mengubah bentuk keping puzle-nya, istri bersedia mengubah bentuk keping puzle-ya. Dengan cara ini, semua bidang akan terisi dan terpenuhi oleh keping puzle mereka berdua.

Berapa lama waktu yang mereka perlukan untuk memenuhi bidang tersebut, tergantung dari berapa lama waktu yang mereka sediakan untuk berubah, menerima pengaruh dari pasangan

1. Membuka Diri untuk Berubah

Hal pertama kali yang harus anda lakukan adalah membuka hati, pikiran dan jiwa untuk berproses dan berubah bersama pasangan. Anda bukan lagi seorang jomblo yang hidup bebas. Anda bukan lagi sosok bujang yang hidup tanpa beban. Anda berdua adalah sosok baru yang hidup bersama dalam sebuah ikatan sakral atas nama Allah. Sepenuhnya anda berdua harus menyadari hal ini. Jangan lagi berpikiran, berperasaan, berperilaku seperti ketika belum menikah.

Kesediaan untuk berubah ini menjadi sagat penting, mengingat anda tidak bisa menuntut pasangan anda saja yang berubah menyesuaikan keinginan dan selera anda. Tidak bisa. Anda terikat satu dengan yang lainnya, dan berinteraksi secara sangat intim, maka pasti memberikan pengaruh satu dengan yang lain. Jangan hanya menuntut pasangan yang berubah, karena cara pandang seperti ini sangat ego-sentris. Sangan “aku”, padahal pasangan anda juga memiliki harapan serta keinginan kepada anda.

“Mengapa kamu tidak mau berubah menyesuaikan dengan harapanku?” menjadi pertanyaan absurd jika hanya berbentuk tuntutan sepihak. Pernyataan yang lebih layak dilontarkan adalah, “Apa harapanmu kepadaku, aku akan berusaha memenuhinya”. Identitas yang dijadikan tolok ukur bukanlah diri anda, suami ataupun istri. Namun anda harus menyepakati identitas baru sebagai jalan tengah dan titik temu untuk perubahan anda berdua.

Anda sejak kecil sampai dewasa memiliki cara, gaya serta selera makan tertentu. Setelah menikah, anda harus bersedia untuk mengubah cara, gaya serta selera makan tersebut apabila ternyata hal itu menggangu kenyamanan hubungan dengan pasangan. Sejak kecil sampai dewasa anda memiliki cara dan gaya tidur tertentu. Setelah menikah, anda harus bersedia untuk mengubah cara dan gaya tidur tersebut apabila ternyata hal itu menggangu kenyamanan hubungan dengan pasangan.

Sejak kecil sampai dewasa anda memiliki cara dan gaya tertentu dalam berpenampilan. Setelah menikah, anda harus bersedia untuk mengubah cara dan gaya penampilan tersebut apabila ternyata hal itu menggangu kenyamanan hubungan dengan pasangan. Sejak kecil sampai dewasa anda memiliki cara dan gaya tertentu dalam berbicara. Setelah menikah, anda harus bersedia untuk mengubah cara dan gaya bicara tersebut apabila ternyata hal itu menggangu kenyamanan hubungan dengan pasangan.

Demikian seterusnya, anda tidak bisa mempertahakan ciri anda sendiri ketika sudah menikah. Anda harus memiliki kesiapan dan kesediaan untuk berubah, karena pengaruh pasangan. Bisa saja anda tidak peduli pada penilaian orang lain, mungkin saja anda tidak memperhatikan komentar orang terhadap anda, namun anda harus peduli dengan penilaian serta komentar pasangan terhadap anda.

Kalimat “aku tidak bisa berubah, terimalah aku apa adanya” jelas pernyataan yang salah. Semua manusia bisa berubah sepanjang ia mau berubah. Tidak layak mempertahankan sesuatu kebiasaan yang mengganggu kenyamanan hubungan dengan pasangan.

2. Terimalah Pengaruh Positif Pasangan

Hal-hal positif dari pasangan sangat layak untuk anda terima dalam diri anda. Misalnya gaya hidup yang sehat, teratur dan disiplin. Bisa jadi selama ini anda tidak begitu peduli dengan kesehatan diri, anda memiliki gaya hidup yang tidak sehat, tidak teratur dan tidak disiplin. Ada suami yang sejak muda terbiasa merokok, begadang sampai larut malam, tidak pernah olah raga, makan sembarangan dan gaya hidup tidak sehat lainnya. Sedangkan sang istri sangat peduli dengan kesehatan, memperhatikan jenis dan pola makan, disiplin dengan jam tidur, serta menjauhi hal-hal yang merusak kesehatan.

Hendaknya suami tersebut membuka diri untuk menerima pengaruh positif dari istri berupa gaya hidup yang sehat, disiplin dan teratur. Anda tidak bisa lagi mengatakan “Terserah aku mau merokok atau tidak”, karena pengaruh rokok bukan hanya anda rasakan sendiri. Setelah menikah, dampak dari suami merokok bisa dirasakan oleh istri dan anak-anak. Perokok pasif bisa menderita penyakit, maka suami yang perokok berat bisa mempengaruhi kesehatan istri, anak-anak dan anggota keluarga lainnya.

Kebiasaan begadang hingga larut malam bahkan hingga pagi yang dari masa muda dimiliki, tidak bisa lagi dipertahankan walaupun atas nama pertemanan. Maka pertanyaan “Apakah pernikahan itu mengekang?”, jawabannya bisa iya dan bisa tidak. Iya, mengekang, untuk perilaku negatif dan mengganggu kenyamanan pasangan. Suami dan istri harus bersedia dikekang atau mengekang diri untuk tidak melakukan hal-hal negatif dan mengganggu kenyamanan pasangan. Tidak mengekang, untuk perbuatan positif dan menyenangkan pasangan.

Contoh lain adalah kebiasaan rajin serta taat ibadah. Misalnya ada seorang istri yang sejak kecilnya kurang rajin ibadah, mendapatkan suami yang sangat rajin serta taat ibadah. Hendaknya sang istri menerima pengaruh posisitif dari suami untuk berubah menjadi sosok istri yang rajin dan taat ibadah. Penyesuaian diri dalam hal positif seperti ini hendaknya dibuka seluas-luasnya, agar bisa mendapatkan kebaikan optimal dalam hidup berumah tangga.

Ibu

Oase Dakwah
Penyejuk Hati Penggugah Jiwa

Ibunda, Begitulah Anakku Memanggilku
Oleh: Rochma Yulika

Ibu adalah sekolah, apabila mampu mendidik anak-anak dengan baik maka akan lahirlah generasi mulia.
Ibu adalah taman, yang senantiasa menghadirkan kesejukan serta menyirami bunga-bunga hingga bertunas begitu indahnya.

Ibu adalah guru yang akan menjadikan anak-anak mereka berkarya dan berprestasi hingga mampu menghasilkan pejuang-pejuang pengusung peradaban.

Sahabat Surgaku...
Bagi kita para orang tua, terutama ibu memiliki peran penting dalam pendidikan anak-anaknya.
Posisi yang sangat strategis bagi kita yakni bukan hanya menjadi seorang ibu, namun menjadi guru, sahabat, pendesign masa depan anak-anaknya.

Saatnya bercermin...
Hati-hatilah bunda bila bersikap...
Hati-hatilah bunda bila berucap...
Hati-hati pula kala berperilaku,
lantaran bisa jadi akan ditiru.

Menjadi ibu sangat mudah dalam ukuran biologis namun menjadi ibu yang sejati tidaklah mudah.
Butuh perjuangan bahkan pengorbanan.
Untuk itulah kita sebagai ibu harus senantiasa belajar untuk menjadi lebih baik.
Bukan hanya untuk kepentingan pribadi namun demi kebaikan anak-anak kita juga.

Mengapa harus ibu??
Dalam diri ibu ada perasaan lembut, batin yang halus, jiwa yang peka, air mata bahagia, keindahan, ketegaran, dan ketangguhan.

Siapa ibu??
Ia bak padanan kehidupan, tempat mengadu, tiang pancang tegaknya urusan, damainya rumah, dan kunci kesuksesan.

Siapa ibu??
Dia makhluk yang paling lembut namun sosok tegarnya bagaikan karang yang tak mudah runtuh diterjang gelombang.

Siapa ibu??
Dia adalah teman baik kala jiwa gundah, sahabat dekat kala hati bahagia, sumber ketenangan dan rasa aman.

Begitu banyak kata yang teruntai dalam kalimat tak kan sanggup menggambarkan sosok ibu.

Mari kita belajar untuk menjadi orang tua yang baik.
Mengapa perlu belajar? Karena ilmu menjadi ibu itu mudah diucapkan namun berat untuk dilakukan.
Maka belajar dan belajar menjadi kewajiban bagi kita.

AIHQ(Eks.DTI) PSDM ODOJ
AIHQ/94/21/12/2015
oaseodoj@gmail.com

Senin, 14 Desember 2015

Dua Godaan Niat

Terkadang tanpa kita sadari, kita tengah berdiri di antara dua godaan niat. Satu sama lain saling menarik dan bisa saja membuat pijakan kita goyah. Memiliki niat yang tetap lurus hingga akhir memang bukan perkara mudah. Seandainya itu terlalu mudah, mungkin balasannya tak seindah jannahNya.
Masih dengan impian kami memiliki kendaraan umat. Ya, kendaraan umat, yang dengannya, maka ego pribadi tidak menjadi yang utama. Niat itu ternyata tidak sebulat niat untuk pergi ke tanah suci disebabkan kesiapan memiliki kendaraan umat ini masih belum maksimal
Saya dan suami selalu saling mengajukan alasan, kenapa kami harus membeli kendaraan roda empat? Sudah siapkah kami berkhidmat pada umat?
Sudahkah kami membersihkan hati dari niat-niat lain yang mengotori?

Kami sadari, kami hanyalah manusia biasa. Kami yang mungkin memiliki ketakutan thd keinginan kami, karena sgala sesuatu akan kami pertanggungjawabkan.

Kami tak bisa menghindar, ketika terdengar suara2 yang sesungguhnya sia-sia untuk kami dengar. Dari mereka yang memandang rendah 'dunia' kami. Karena sesungguhnya di sisi Allah, kerendahan dunia bukanlah kerendahan derajat di sisiNya.

Maka ketika muncul keinginan memiliki 'dunia' yang lebih dari mereka, kami harus berusaha menghapusnya dengan mengingat mereka yang pada hari ini masih kekurangan makanan, kekurangan rizki, di manakah kami terhadap mereka?

Ketika keinginan justru hilang, merasa belum siap berkhidmat, maka. . . Itu seperti godaan juga bagi kami, apakah yang sudah kami perbuat? Apakah akan kami biarkan keluarga kami, tetangga kami, saudara2 kami, kawan2 kami mengalami kesempitan dalam aktivitas kebaikan mereka?

Ya Allah,
Sesungguhnya apa yang akan menjadi rizki kami di dunia ini adalah rahasiaMu
Tidak ada yang dapat kami perbuat, selain meningkatkan kesungguhan kami dalam bermunajat kepadaMu. Engkaulah Pemilik Perbendaharaan yang ada di langit dan bumi.

Jumat, 11 Desember 2015

Sensi

Beginilah diri ketika sensi datang melanda. Pertanyaan kenapa bermunculan.
Kenapa dan kenapa
Dan itu tidak akan ada habisnya
Tidak ada kata yang mampu menjawabnya.

Sudahlah.
Akhiri dengan istighfar. Tinggalkan, mulailah kebaikan

Karena awal dari kebaikan adalah meninggalkan kejahatan

Kamis, 10 Desember 2015

Istirahat Sejenak

Ketika jemari ini istirahat dari menari di atas keyboard, sesungguhnya mata ini tak pernah berhenti dari melihat kata.
Ya, sekedar ingin mengatakan, kesibukanku saat ini adalah lebih banyak membaca daripada menulis, lebih banyak melihat dari pada berkomentar. Terkadang masa-masa seperti itu dibutuhkan untuk kita merefleksikan diri kita. Seperti ketika Rasulullah merenung di gua Hira sebelum dipertemukan dengan Malaikat Jibril. Manusia seperti Rasulullah yang ma'sum-pun memiliki sisi di mana ia memerlukan waktu dan tempat untuk merenung sejenak terhadap kondisi yang ia lihat dan ia rasakan. Apalagi sekaliber diriku yang tak pernah luput dari kesalahan sengaja atau tidak disengaja setiap harinya.
Kesalahan demi kesalahan yang menumpukpun bisa jadi menutupi mata hati kita dari melihat perkara hidup dengan jernih. Masalah yang datang walaupun sebenarnya kecil, bisa menjadi sesuatu yang menyempitkan dada. Pada saat seperti itulah mungkin, saatnya kita butuh berdiam sejenak untuk merenung sembari merefleksikan diri, berucap istighfar dan merangkai sejuta harap akan pengampunan dari Rabb yang Maha Pengampun, agar berkenan untuk membersihkan hati kita sehingga bisa kembali melihat kehidupan ini dengan jernih, melihat tantangan yang muncul sebagai dinamisasi kehidupan, merangkul partner terdekat, yaitu keluarga untuk bersinergi dalam menghalau penghalang untuk meraih impian bersama, menopang fisik untuk bergerak atas jiwa yang menggelora. Oleh sebab jika diri terus bergerak, bukan tidak mungkin ia takkan roboh karena lelah. Pun jika diam itu terlalu lama, bukan tidak mungkin, ia menjadi malas berkepanjangan atau mencapai kelumpuhan untuk bergerak pada akhirnya.

Bahasa kekiniannya mungkin lebih kita kenal dengan istilah ~keburu jamuran~

Minggu, 08 November 2015

Sederhana

Ingatlah bahwa Abdurahman bin Auf yang kaya rayapun, beliau adalah sosok yang sederhana dan bersahaja. Maka apakah yang membuatmu malu, jika setiap hari kau harus menyikat sepatu karetmu satu-satunya sepatumu, dari debu yang menempel?
Maka apakah yang membuatmu bosan, jika tiap pekan kau mengenakan gamis yang sama ibarat seragam harian kerjamu?
Maka apakah yang membuatmu merasa berat, berada di atas motor tanpa atap, sedangkan Allah swt masih menjagamu?

Minggu, 01 November 2015

Kembali Menyemangati Diri

Dunia seperti fatamorgana. Melambai-lambai menawarkan keindahannya. Janjinya begitu manis, terbalut dengan apik. Namun, ketika langkah-langkah kaki berlari mengejarnya, iapun semakin berlari menjauh. Tak peduli pada lelah, tak peduli pada peluh.
Sedangkan ia nya sementara saja. Ketika sebagian orang yang memilih mengambil langkah 'barang di muka, cicilan di belakang' berpikir bahwa waktu 5 thn, 10 thn hanyalah sebentar, demi menghibur diri... maka hari ini, akupun sedang menghibur diri, bahwa 1 thn, 3 thn dsb jg tidak lama untuk menabung. . .
Terus bertanya pada diri, seberapa pentingkah barang tersebut sehingga sanggup memungkiri doa harian kita agar terbebas dari hutang?
Meski menabung bukanlah satu-satunya jalan, bahkan bisa jadi merupakan jalan paling konvensional. Hari ini ada istilah investasi, wirausaha dsb sebagai bentuk lain untuk mengumpulkan sejumlah dana untuk membeli barang yang kita butuhkan dan bernilai besar.
Jika pertanyaan di atas ternyata memunculkan jawaban akan urgensi barang tersebut untuk kelangsungan hidup atau keperluan yang mendesak, maka satu prasyarat yang aku ajukan untuk diriku agar tidak melebihi jangka waktu dua tahun untuk menyelesaikannya. Itupun dengan beberapa komitmen akan kemanfaatan barang tersebut tidak sekedar untuk kepentingan pribadi.
Maka jawaban akan pertanyaan di ataspun bukan sekedar jawaban pribadi tanpa bukti dan tanpa dukungan, tanpa kesiapan akan komitmen. Karena setiap apa yang kita miliki, akan dipertanyakan kelak, untuk apa sajakah?

Rabu, 30 September 2015

Astaghfirullah

Pagi ini aku tersadar akan suatu hal, yang akhir-akhir ini seperti menjadi 'kebanggaanku'. Suatu hal yang ternyata -pada hari ini aku renungkan- bukanlah hal yang baik, bahkan bisa jadi merusak harga diriku sebagai seorang muslim.
Ketika aku, dengan santai dan sok akrabnya bertanya, tidak sekedar kabar orang lain, tapi juga urusan lain yang ingin aku ketahui, misalnya berapa harga rumah yang kau beli? Berapa cicilannya?
Informasi di atas mungkin bisa jadi berguna untuk kupakai sebagai referensi
Tapi kesalahan yang mungkin terjadi adalah ketika lidah tak bertulang ini menyebarkan hal tsb pada orang lain layaknya seorang reporter berita

Apakah info itu dibutuhkan oleh orang lain?
Apakah info itu tidak mengusik ketenangan narasumber jika disebarkan?
Apa keuntungan yang ingin kudapatkan dari menyebar info tsb?

Astaghfirullah,
Jangan sampai hanya karena ingin disebut orang yg paling update, atau sebaliknya, nggak mau disebut kudate, harga diriku sebagai seorang muslim jadi taruhannya.

Seorang muslim itu menjaga saudaranya. Menjaga harta, menjaga kehormatan, menjaga keturunan, menjadi ketenangan jiwa, menjaga kepercayaan, menjaga aib saudaranya.

Bersaudara bukan perkara mudah. Tapi Allah swt menjanjikan banyak kebaikan darinya. Maka jagalah hati tetap dalam kebaikan dan singkirkan segala penyakit hati

Sabtu, 19 September 2015

Betapa Malunya Aku Padamu

Betapa mulianya engkau ya Rasulullah. Sungguh jika engkau mau, dunia dan seisinya milikmu, Malaikatpun siap membantumu, apapun yang engkau inginkan bisa terpenuhi, tapi engkau memilih menjalani kehidupan yang zuhud, engkau memilih memikul beban rakyat dan umatmu, engkau memilih memaafkan siapapun yang menyakitimu.

Betapa malunya kami padamu ya Rasulullah. Tertatih mengejar dunia yang sungguh tak layak untuk dikejar, menghitung-hitung apa yang sudah dan belum kami miliki, merasa terusik dengan orang yang merengek meminta bantuan walaupun akhirnya keluar rasa iba.

Betapa malunya kami padamu ya Rasulullah. Masih mendaftar sederet alasan yang menghalangi kami untuk bergerak. Belum punya ini, belum punya itu malah jadi alibi tidak melakukan apa-apa.

Betapa malunya kami. Sibuk memikirkan apa yang nampak. Lupa bahwa sesuatu yang tak nampak bukan berarti tak punya makna.
Popularitas, harta, bahkan di antara kami ada yang rela berhutang untuk mendapatkan label status sosial yg lebih tinggi.

Seharusnya kami kaum hawa tak perlu sedih
Jika apa yang kami kenakan seadanya itu lagi itu lagi
Jika prinsip yg kami pegang seolah menjauhkan kami dari khalayak (menghindari ghibah)
Jika dalam pergaulan kami tidak begitu eksis

Yang lebih penting adalah

Kekhawatiran thd urusan dunia menyibukkan dan melalaikan kami dari tanggung jawab
Usaha untuk meredam merebaknya ghibah
Keringanan untuk terus memberi dan memberi

Selasa, 08 September 2015

Takkan Goyah

Takkan goyah langkahku, untuk terus menabur kebaikan di manapun aku berada
Takkan goyah langkahku, untuk terus bersungguh sungguh dalam menuntut ilmu
Takkan goyah langkahku, walaupun tertatih mengeja hafalanku

Walaupun terkadang. . . Hempasan itu datang dari mereka yang aku sebut sbg "saudara"

Ketika apa yang aku lakukan seolah tiada harganya
Apa yang aku pikirkan seolah tiada nilainya
Bahkan kesungguhanku bisa menjadi lelucon

Ya Allah. . .

Di sinilah mungkin aku mulai belajar tentang makna ikhlas
Di sinilah mungkin aku mulai belajar tentang makna pengorbanan
Di sinilah mungkin aku mulai belajar tentang makna pantang menyerah

Dan yang terpenting
Di sinilah mungkin aku mulai belajar bahwa penilaian Allah jauh lebih utama dibandingkan penilaian makhluk

Di sinilah mungkin aku mulai sadar bahwa tiada kekuatan kecuali kekuatanNya, dan hanya Allah tempatku bersandar dan meminta pertolongan 

Di sini pulalah kemudian aku merasa tergeliat untuk menghidupkan malam2ku bermunajat padaNya

Terima kasih
Saudaraku yang dengan tulus menyayangiku

Terima kasih juga untuk
Saudaraku yang mungkin sdg menyamar sbg 'musuh' dalam rangka memperbaiki diriku

Semangaaat

Senin, 03 Agustus 2015

Ikhlas

Ikhlas tak perlu diucapkan, tak perlu ditampakkan, tak perlu diungkit

Karna satu hal

Ikhlas itu bisa dirasakan
Di manapun kita berada

Tanpa kita ucapkan
Tanpa kita tampakkan
Tanpa kita ungkit

Ikhlas itu terasa, terpancar kepada mereka yg berada di sekeliling para mukhlisin

-Di jaman ketika update status 'apa yang akan/sedang/sudah dilakukan menjadi suatu kebiasaan, bahkan menjadi begitu sulitnya untuk menyembunyikan apa yang akan/sedang/sudah dilakukan, kata ikhlas entah bersembunyi di mana. . .

Senin, 27 Juli 2015

Aku dan Ibu Mertuaku

Ibu mertua. Jarang skali aku menyebutnya demikian. Bagiku, ibu mertua seperti ibuku sendiri. Sehingga akupun lebih sering menyebutnya ibu. Beliau seorang yang sangat baik dan perhatian tidak hanya kepada delapan anak kandungnya, tapi